Perbandingan SARS, MERS dengan Covid-19

Sejak akhir tahun 2019, dunia digemparkan oleh virus corona yang berdampak besar dimulai dari kota Wuhan di daerah China. Berbagai penelitian bermunculan untuk mempelajari lebih lanjut akan virus tersebut, termasuk untuk menemukan obat penangkalnya dan pencegah penyebaran lebih lanjut. Banyak peneliti juga menemukan beberapa kesamaan antara virus corona dengan virus yang pernah cukup menggemparkan dunia di masa lalu, yaitu SARS dan MERS. Artikel ini akan membahas akan informasi lebih lanjut mengenai ketiga macam virus tersebut. 

Satu Virus yang Terpecah Menjadi Tiga Macam Penyakit

Bagaikan saudara, ketiga macam penyakit yang terkenal di seluruh dunia ini berasal dari satu jenis kelompok virus. Dengan nama coronavirus, dapat mengakibatkan tiga macam penyakit yang disebabkan oleh virus ini yaitu Covid-19, SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome), dan MERS (Middle East Respiratory Syndrome) atau yang sering juga disebut MERS-CoV (Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus).

Mengenal Keluarga Covid-19, SARS, dan MERS

Ketahui Perbedaan COVID-19 dengan SARS dan MERS - Alodokter
Virus dengan gangguan pernafasan

Kesamaan dari Covid-19, SARS dan MERS

Ketiga virus ini dikenal berasal dari satu jenis yang sama, sehingga sering disebut bersumber dari satu keluarga. Ketiga virus ini merupakan jenis penyakit yang menginfeksi bagian yang sama di tubuh manusia, yaitu saluran pernafasan. Maka dari itu orang yang terinfeksi akan umumnya mengalami gejala sakit yang sama. Sebelum terjadinya perkembangan seperti yang dialami pada kasus terbaru penyakit corona baru-baru ini. Penderitanya dapat mengalami berbagai macam kondisi, dimulai dari skala ringan hingga skala yang tercatat paling berat dialami manusia. Penyakit ini juga menimbulkan gejala yang sama seperti yang sering terjadi pada penderita pneumonia.

Penyakit SARS pertama kali muncul juga di negara China, tepatnya pada tahun 2002 di provinsi Guandong yang terletak di China bagian Selatan. Sedangkan MERS pertama kali muncul di Timur Tengah yang lebih tepatnya di Arab Saudi pada tahun 2012. Dianalisa dari jenis masalah yang ditimbulkan, ketiga penyakit ini ditemukan bersumber dari satu virus yang sama. Meskipun banyak penelitian mengungkap bahwa penyebaran yang disebut dengan kasus transimi zoonosis ini sangat jarang terjadi. Namun penyakit ini ditemukan banyak terjadi akibat cara penularan dari hewan ke manusia dan antar sesama manusia. Beberapa aktivitas dianggap dapat menimbulkan perpindahan penyakit ini dari hewan yang mengidap virus hingga berpindah ke manusia. Beberapa hewan yang menularkan penyakit ini contohnya kelelawar yang berpindah ke musang sebelum menularkan penyakit SARS ke manusia, penularan yang juga dari kelelawar dan berpindah ke unta sebelum menginfeksi manusia dalam kasus penyakit MERS, dan anggapan akan hewan kelelawar dan trenggiling sebagai asal mula penyebaran penyakit Covid-19.

Perbedaan Covid-19, SARS dan MERS

Meskipun berasal dari satu virus yang sama, penyakit Covid-19, SARS dan MERS memiliki perbedaan yang cukup banyak seperti yang akan dijabarkan lebih lanjut.

1. Perbedaan Berdasarkan Masa Inkubasinya

Terdapat perbedaan dalam masa inkubasi yang diperlukan dalam ketiga macam penyakit ini. Waktu inkubasi itu sendiri adalah waktu yang diperlukan dalam virus penyebab penyakit ini berkembang hingga menimbulkan keluhan bagi penderitanya. Atau waktu mulai muncul gejala dari infeksi yang dialami. Waktu yang diperlukan dalam penyakit MERS umumnya berkisar 2 hingga 14 hari yang banyak terjadi pada hari ke-5. Sementara untuk SARS diantara 1 hingga 14 hari yang umumnya terpusat pada hari ke 4 hingga 5. Sedangkan dalam kasus Coronavirus diantara 1 hingga 14 hari, dan mirip dengan penyakit MERS yang titik pusat gejalanya sering timbul dalam waktu 5 hari.

2. Perbedaan Berdasarkan Gejala dan Penyebarannya

Dalam skala ringan, ketiga penyakit ini menimbulkan gejala demam, batuk, nyeri pada tenggorokan, hidung tersumbat, tubuh terasa lemas, sakit kepala serta timbul nyeri pada otot. Memiliki kesamaan dengan pneumonia, penyakit ini dapat menimbulkan gejala demam, batuk yang berintensitas parah, kesulitan untuk bernafas dan irama bernafas yang berlangsung pendek-pendek secara cepat. Namun pada penyakit Covid-19, penderitanya sering mengalami pilek dan masalah dalam pencernaan seperti gangguan saat buang air besar, perut terasa mual dan sering disertai dengan muntah.

Ketiga penyakit ini dikenal ditularkan melalui dua macam cara, yaitu melalui menghirup percikan air liur dari penderita penyakit saat bersin atau batuk. Bisa juga jika cairan yang mengandung virus tersebut menempel di benda dan kemudian disentuh oleh orang sehat lainnya, dimana ia menyentuh hidung atau mulut setelah terkontaminasi tanpa mencuci tangannya terlebih dahulu. Penyakit yang paling mudah menyebar antar sesama manusia dari ketiga jenis ini adalah Covid-19, yang kemudian disusul dengan SARS dan diakhiri dengan MERS. Namun dalam persentase angka kematian yang ditimbulkan dari ketiga penyakit serupa ini, penyakit MERS memegang kedudukan posisi paling tinggi dengan mencapai angka kematian 37%, disusul dengan SARS yang sebesar 10% dan diakhiri dengan Covid-19 yang hingga sejauh ini masih lebih kecil dari SARS. Sedangkan dalam tingkat percepatan tersebarnya, Covid-19 menduduki peringkat paling tinggi dan tersebar begitu cepat jika dibandingkan dengan kedua penyakit lainnya. Berbagai sumber yang telah berhasil dikumpulkan dari seluruh dunia menyebut Covid-19 telah menginfeksi hingga lebih dari 2 juta orang di seluruh dunia, jumlah yang berkali-kali lebih besar dibanding dua penyakit pendahulunya.

3. Perbedaan Dalam Cara Pengobatannya

Meskipun hingga saat ini belum ada obat yang telah dipatenkan sebagai menyembuhkan penyakit Covid-19, terdapat beberapa macam obat yang dinyatakan dapat membantu peredaran bagi para pasiennya. Obat-obat seperti oseltamivir, lopinavir serta ritonavir sudah memberi hasil yang cukup efektif bagi banyak penderita Covid-19. Meski pengembangannya masih terus berada dalam penelitian untuk menghindari efek samping atau gejala penolakan lainnya. Sedangkan untuk penyakit SARS dan MERS yang sudah terjadi di masa lalu, obat lopinavir, ritonavir, dan obat jenis terbaru seperti remdesivir terbukti efektif dalam mengobati penyakit tersebut. Akibat dari belum ditemukan obat yang pastinya, banyak penderita Covid-19 yang mengalami infeksi cukup berat perlu mendapat perawatan lebih intensif seperti pemberian infus, bantuan oksigen, antibiotik serta obat-obatan yang diberikan untuk mengatasi gejala yang timbul. Penderita dengan gejala yang ringan cukup menjalani isolasi mandiri di rumahnya, sedangkan untuk kasus yang berat (seperti berkaitan dengan aneka penyakit lainnya) harus dirawat di rumah sakit untuk dapat lebih sigap dipantau gejala dan perkembangannya. Hal ini dilakukan supaya pihak tersebut tidak menulari orang sehat lainnya. Berbagai lembaga kesehatan nasional maupun dari negara-negara lain mengutamakan pola hidup yang lebih sehat dalam mengatasi pandemi corona yang masih berlangsung hingga saat ini. Dan menyarankan segala aktivitas bepergian keluar rumah untuk dikurangi sebisa mungkin, serta tak lupa untuk menghindari aktivitas perjalanan keluar negeri dulu untuk berbagai keperluan. Jika memungkinkan, segala aktivitas dilakukan melalui pertemuan secara virtual atau berhubungan dengan sarana komunikasi yang telah tersedia.